Rupiah sampai saat ini masih bergerak di kisaran 14.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Akibatnya, banyak pihak yang menanyakan aksi intervensi Bank Indonesia (BI) yang kurang agresif yang mengakibatkan nilai tukar rupiah masih terus melemah. Menanggapi hal itu, Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo mambantahnya. Perry mengaku BI selalu aktif di pasar mati-matian untuk menjaga pergerakan rupiah.

“Penangananan kita sudah lakukan. Antisipasi sejak lama dari RDG kemarin, kita juga sudah melakukan intervensi di pasar valas. Kita juga lakukan pembelian SBN di pasar sekunder,” ujar? kata Perry di Gedung DPR RI, Selasa (25/8/2015).

Tak tanggung-tanggung sebagai langkah antisipasi, bahkan BI selalu siap jika harus melakukan ?Bilateral Currency Swap Agreement (BCSA) jika nantinya kondisi cadangan devisi terus tergerus akibat intervensi yang dilakukan di pasar uang. Selain itu, demi mencegah keterpurukan pasar uang, dikatakan Perry, BI akan berkoordinasi d?engan Menteri BUMN Rini Soemarno untuk mendorong perusahaan BUMN melakukan buyback.

“Itu bisa mendorong penguatan nilai tukar kita,” tegas Perry.

Seperti diketahui, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sampai hari ini masih berkutat di level 14.000 pada perdagangan Selasa pekan ini. Sentimen eksternal masih mendominasi pergerakan nilai tukar rupiah terutama ketidakpastian kenaikan suku bunga AS dan China sengaja melemahkan mata uangnya Yuan.

Berdasarkan data RTI pukul 09.30 WIB, nilai tukar rupiah berada di kisaran 14.053 per dolar AS. Pergerakan rupiah ini menguat tipis dari pukul 08.30 WIB di kisaran 14.058 per dolar AS. Sementara itu, berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah dibuka melemah tipis 6 poin ke level 14.055 per dolar AS dari penutupan perdagangan Senin 24 Agustus 2015 di kisaran 14.049 per dolar AS. Pagi ini, nilai tukar rupiah bergerak di kisaran 14.034-14.072 per dolar AS.?

Bank Indonesia